Perlukah Live Streaming "Ditiadakan"
cnet.com
Tak disangka bagaimana peristiwa kelam terjadi di Selandia Baru. Lebih tepatnya di dua Masjid dengan lokasi berbeda. Lagi-lagi orientasi agamalah yang mendasari adanya aksi teror penembakan. Fenomena Islamophobia masih terus melekat. Padahal sudah jelas, ketakutan mereka ini dilandaskan sebuah asumsi yang tidak berdasar sama sekali. Sehingga agamalah yang dijadikan motif kekerasan yang hingga kini masih terjadi.
Lebih dari 40 orang harus melaksanakan Sholat Jum'at terakhir dalam hidupnya akibat serangan penembakan tersebut. Namun yang lebih ironisnya lagi, sang pelaku menyiarkan secara langsung lewat platform media sosial Facebook saat melakukan perbuatan biadabnya. Video tersebut langsung tersebar bagaikan wabah ke seluruh dunia dengan membawa gambaran kelam yang terhampar di atas lantai Masjid yang suci.
Tentu propaganda seperti ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. Kita tahu beberapa tahun lalu ISIS juga melakukan hal yang sama saat melakukan eksekusi terhadap tawanannya. Ataupun siaran langsung seperti ini bukan saja dilakukan sebagai media prapaganda, melainkan perbuatan lain yang melawan norma hukum. Seperti pembunuhan, upaya bunuh diri, penyerangan, dan sebagainya.
Dengan pengguna/pengakses sosial media yang begitu banyak, sepertinya telah dianggap sebagai langkah efektif bagi para pelaku untuk menyiarkan aksinya. Tak ayal polemik baru pun muncul dan kini banyak orang yang mempertanyakan bahaya fitur live-streaming yang ada di beberapa platform media sosial apabila salah dipergunakan. Pengamat teknologi informatika dari ICT, Heru Sutadi menyerukan Facebook untuk menutup fitur tersebut.
Hal ini didasari kelalaian pengelola platform dalam memfilter koten video dan gagal memblokirnya.
"Dengan kejadian di Selandia Baru, kita semua bersama-sama mempertanyakan atau menyerukan agar Facebook untuk sementara menutup layanan live streaming," dikutip CNN Indonesia.
Setidaknya, penutupan harus dilakukan hingga Facebook menemukan sistem proteksi ataupun algoritma tertentu untuk melacak adanya konten sensitif hingga ekstrim pada live-streamingnya secara real time. Video pun bisa langsung terdeteksi dan cepat ditindak seperti dilakukan pemblokiran. Sehingga tidak akan sampai tersebar ke masyarakat luas.
Peringatan untuk seluruh platform media sosial
Kelalaian Facebook sudah seyogyanya menjadi peringatan bagi seluruh platform media sosial. Terutama bagi yang sama-sama memiliki fitur live-streaming. Sebut saja Instagram, Snapchat, Twitter hingga YouTube. Mereka harus melakukan upaya untuk menemukan sistem proteksi dini terhadap berbagai konten video yang digunakan oleh penggunanya.
Dari data diatas, bisa kita lihat bagaimana krusialnya penyebaran informasi serta segala bentuk kegiatan maupun konten yang ada pada keempat sosial media tersebut. Tentu masuk akal bagaimana video kekerasan tersebut sangat berpengaruh mengingat jumlah pengguna yang mengakses sangat luar biasa banyak.
Sehingga diperlukan langkah konkret demi mencegah hal serupa terulang kembali. Lalu apakah sebaiknya fitur live-streaming ditiadakan?? Semua itu tergantung dari komitmen penyedia platform dalam melakukan langkah pencegahan. Apabila hal itu tidak terealisasi, maka fitur ini terlalu berbahaya jika terus disematkan.



0 Response to "Perlukah Live Streaming "Ditiadakan""
Posting Komentar